HOLEP · Kasus khusus & pengambilan keputusan

Operasi BPH Gagal atau Kambuh? HoLEP Bisa Jadi Solusi Tepat

Ditinjau oleh Dr Badrulhisham Bahadzor · Diperbarui 23 April 2026 · Waktu baca 5 mnt

Mengapa operasi kedua kadang diperlukan

Perlu dipahami bahwa tidak ada operasi pembesaran prostat jinak (BPH) yang bisa menjamin gejala hilang seumur hidup. Beberapa teknik pengobatan memang memiliki tingkat pengulangan yang lebih tinggi dibandingkan yang lain.

Prosedur seperti UroLift dan Rezūm sering dipilih karena masa pemulihan yang singkat dan kemampuannya mempertahankan ejakulasi. Namun, efektivitasnya bisa menurun setelah beberapa tahun, sehingga pasien mungkin membutuhkan tindakan lanjutan.

Di sisi lain, sebagian kecil pria yang pernah menjalani TURP juga bisa kembali membutuhkan penanganan. Hal ini biasanya terjadi karena adanya penyempitan akibat jaringan parut atau jaringan yang menyumbat kembali tumbuh.

Mengapa HoLEP sering menjadi langkah selanjutnya

Enukleasi prostat dengan laser holmium (HoLEP) bekerja dengan mengangkat jaringan tepat di sepanjang bidang kapsul prostat. Area ini berbeda dengan bagian yang disentuh oleh UroLift, Rezūm, atau TURP.

Setelah seseorang menjalani operasi sebelumnya, kondisi jaringan di dalam prostat tentu sudah berubah. Adanya fibrosis (penebalan jaringan), sisa implan, atau perubahan struktur anatomi bisa membuat proses pemisahan jaringan menjadi lebih sulit.

Meski begitu, HoLEP tetap sangat memungkinkan untuk dilakukan setelah berbagai operasi BPH sebelumnya. Karena teknik ini mengangkat jaringan hingga ke batas kapsul, HoLEP mampu mengatasi sumbatan yang mungkin tidak sepenuhnya tuntas oleh prosedur yang hanya mempertahankan sebagian jaringan.

Apa kata penelitian

Sebuah studi tahun 2026 mengevaluasi kelayakan HoLEP pada pasien yang sebelumnya sudah pernah menjalani tindakan untuk BPH[¹]. Studi tersebut melaporkan bahwa HoLEP berhasil diselesaikan pada banyak pria dalam kondisi ini. Namun, waktu operasinya memang cenderung lebih lama dan ada sedikit peningkatan risiko perforasi (lubang kecil) pada kapsul prostat dibandingkan dengan pasien yang baru pertama kali menjalani HoLEP.

Temuan ini sejalan dengan pengalaman klinis di lapangan. Melakukan HoLEP sebagai tindakan lanjutan (salvage HoLEP) memang lebih menantang, tetapi sangat bisa dicapai. Setelah masa pemulihan selesai, tingkat kelegaan dari gejala yang dirasakan pasien pun serupa.

Oleh karena itu, peran dokter bedah yang berpengalaman menangani kasus lanjutan seperti ini menjadi sangat penting.

Pentingnya pemeriksaan sebelum operasi

Sebelum tindakan, dokter bedah akan meminta rekam medis dari operasi Anda sebelumnya. Catatan operasi, hasil pemeriksaan jaringan (histologi), dan hasil pemindaian dari masa lalu akan sangat membantu dalam merancang rencana pengobatan.

Pemeriksaan sistoskopi fleksibel juga sering kali berguna sebelum salvage HoLEP. Prosedur ini membantu urolog melihat kondisi anatomi saat ini, posisi implan UroLift jika ada, serta ukuran sisa jaringan yang menyumbat.

Selain itu, pemindaian tambahan biasanya dilakukan untuk memastikan volume prostat dan menyingkirkan kemungkinan adanya masalah kesehatan lain.

Perbedaan proses operasi di ruang bedah

Jika Anda sebelumnya menjalani UroLift, sisa implan akan diangkat dengan sangat hati-hati selama prosedur salvage HoLEP. Bidang jaringan di tempat implan tersebut dipasang biasanya sudah dipenuhi jaringan parut.

Bagi pasien pasca-Rezūm, area yang sebelumnya mendapat tindakan mungkin sudah menempel erat dengan jaringan di sekitarnya. Dokter bedah akan mengangkat area ini dengan lebih perlahan.

Sementara itu, pada pasien pasca-TURP, jaringan yang tumbuh kembali biasanya menempel pada dasar jaringan parut. Menemukan batas kapsul prostat dalam kondisi seperti ini membutuhkan keahlian dan pengalaman khusus.

Proses pemulihan setelah salvage HoLEP

Secara umum, proses pemulihan tidak jauh berbeda dengan pasien yang baru pertama kali menjalani HoLEP. Durasi penggunaan kateter dan lama rawat inap di rumah sakit cenderung sama.

Namun, kebocoran urine sementara (inkontinensia) bisa sedikit lebih sering terjadi. Hal ini wajar, terutama jika operasi sebelumnya mengubah jaringan di sekitar sfingter eksternal (otot penahan urine). Latihan otot dasar panggul tetap menjadi kunci penting untuk membantu pemulihan.

Untuk jangka panjang, kelegaan dari gejala yang dirasakan setelah salvage HoLEP umumnya setara dengan hasil operasi HoLEP pertama bagi kebanyakan pria.

Harapan yang perlu dibangun

Menjalani salvage HoLEP bukanlah tanda bahwa operasi pertama Anda gagal, dan ini juga bukan sekadar upaya penyelamatan dari hasil yang buruk. Ini hanyalah langkah medis selanjutnya ketika pendekatan pengobatan sebelumnya sudah mencapai batas waktunya.

Beberapa pria mungkin merenung dan berpikir seandainya mereka langsung memilih prosedur enukleasi sejak awal untuk menghindari perjalanan medis yang bertahap. Perasaan seperti ini sangat umum terjadi pasca-operasi, tetapi bukan sesuatu yang perlu diratapi berlarut-larut.

Memiliki rencana penanganan yang tenang jauh lebih penting daripada terjebak dalam penyesalan.

Kesimpulan singkat

Melakukan HoLEP setelah operasi BPH sebelumnya adalah pilihan yang sangat layak dan sering kali efektif. Operasinya memang lebih sulit dibandingkan HoLEP pertama dan sangat diuntungkan oleh kehadiran dokter bedah yang berpengalaman.

Ketika operasi sebelumnya mulai kehilangan efektivitasnya, salvage HoLEP menjadi salah satu opsi yang bisa dipertimbangkan oleh urolog, tentunya dengan menyesuaikan kondisi anatomi dan riwayat bedah pasien.

Referensi

  1. Feasibility of Holmium Laser Enucleation of the Prostate After Prior Prostate Intervention for Benign Prostatic Hyperplasia. Urology, Mar 2026.

    PubMed