HOLEP · Kasus khusus & pengambilan keputusan
Terpaksa Pakai Kateter karena Retensi Urin? HoLEP Bisa Jadi Solusinya
Memahami apa itu retensi urin
Retensi urin terjadi ketika kandung kemih tidak bisa mengosongkan isinya sendiri. Kondisi ini bisa bersifat akut (terjadi tiba-tiba, terasa sangat nyeri, dan urin sama sekali tidak bisa keluar) atau kronis (berkembang perlahan, tidak terlalu nyeri, tapi menyisakan banyak urin di dalam).
Retensi akut adalah kondisi gawat darurat medis yang butuh pemasangan kateter segera. Sementara itu, retensi kronis biasanya baru ketahuan saat pemeriksaan rutin karena keluhan aliran kencing yang lambat atau terasa tidak tuntas.
Keduanya bisa disebabkan oleh pembesaran prostat jinak (BPH) ketika saluran keluar urin tersumbat parah.
Mengapa HoLEP cocok untuk kondisi ini
Prosedur enukleasi prostat dengan laser holmium (HoLEP) bekerja dengan membuka saluran keluar secara lebar dan mengangkat jaringan yang menyumbat. Teknik ini memungkinkan pembersihan yang tuntas hingga ke batas kapsul, bahkan pada kelenjar prostat yang ukurannya sangat besar.
Pria yang mengalami retensi sering kali sudah mengidap BPH selama bertahun-tahun. Saat retensi mulai terjadi, ukuran prostat biasanya sudah membesar secara signifikan.
HoLEP mampu menangani prostat berukuran besar tanpa perlu mengubah teknik dasarnya. Inilah alasan mengapa banyak dokter bedah merekomendasikan prosedur ini sebagai pilihan utama untuk mengatasi retensi.
Apa kata penelitian soal ini
Sebuah studi tahun 2026 membandingkan hasil HoLEP pada pria dengan dan tanpa retensi urin akut yang bergantung pada kateter[¹]. Studi tersebut melaporkan hasil fungsi saluran kemih yang serupa di antara kedua kelompok. Meski kelompok dengan retensi butuh waktu sedikit lebih lama untuk lepas kateter, tidak ada perbedaan dalam hal perbaikan gejala jangka panjang.
Temuan ini sejalan dengan pengalaman klinis di lapangan. Bagi banyak pria yang mengalami retensi, HoLEP terbukti membantu mereka bisa kembali kencing tanpa kateter dalam jangka panjang. Tentu saja, hasil pada tiap pasien bisa berbeda-beda, tergantung pada fungsi kandung kemih dan faktor lainnya.
Proses pemulihan kandung kemih setelah mengalami retensi yang cukup lama mungkin memakan waktu beberapa minggu. Hal ini biasanya akan dibahas secara rinci oleh urolog Anda saat sesi konsultasi sebelum operasi.
Persiapan sebelum operasi
Sebelum tindakan dilakukan, dokter akan mengambil kultur urin. Langkah ini penting karena penggunaan kateter dalam waktu lama rentan membawa infeksi ringan. Jika diperlukan, antibiotik yang ditargetkan akan diberikan pada hari operasi.
Selain itu, tes darah juga dilakukan untuk mengecek fungsi ginjal. Retensi kronis bisa membebani kerja ginjal, dan terkadang angka fungsi ginjal butuh waktu untuk kembali stabil lewat pengosongan kandung kemih sebelum operasi.
Pemindaian (scan) juga diperlukan untuk melihat apakah ada batu kandung kemih atau perubahan pada saluran kemih bagian atas yang mungkin butuh penanganan terpisah bersamaan dengan operasi.
Setelah kateter dilepas
Kontraktilitas kandung kemih—yakni kekuatan otot untuk mendorong urin keluar—butuh waktu untuk "bangun" kembali setelah sekian lama mengalami retensi. Aliran kencing yang kecil dan lemah di hari-hari pertama adalah hal yang wajar dan perlahan akan membaik dalam beberapa minggu.
Namun, beberapa pria mungkin tetap mengalami dorongan yang lemah jika retensi yang dialami sudah berlangsung sangat lama. Dalam kasus seperti ini, masalah utamanya bukan lagi pada saluran keluar yang tersumbat, melainkan pada kemampuan kandung kemih itu sendiri.
Tim medis Anda dapat mengevaluasi kondisi ini melalui tes aliran urin dan pemindaian, lalu merencanakan langkah pengobatan selanjutnya.
Kemampuan menahan kencing setelah HoLEP
Kebocoran urin atau inkontinensia sementara sangat mungkin terjadi di minggu-minggu pertama setelah kateter dilepas. Polanya cenderung sama seperti pemulihan pasca-HoLEP pada umumnya.
Kandung kemih yang sudah meregang selama berbulan-bulan biasanya lebih rentan memicu rasa ingin kencing yang mendesak (urgensi) di masa awal pemulihan. Kondisi ini umumnya akan mereda seiring dengan kembalinya ukuran kandung kemih ke kondisi normal.
Latihan otot dasar panggul (senam Kegel) juga sangat membantu mempercepat proses ini.
Harapan yang realistis
Perlu dipahami bahwa tidak semua pria yang mengalami retensi bisa kembali memiliki aliran kencing yang sepenuhnya normal. Kerja keras ekstra yang dilakukan kandung kemih selama bertahun-tahun mungkin telah meninggalkan perubahan permanen.
Meski begitu, HoLEP secara efektif menuntaskan masalah utamanya: mengangkat sumbatan di saluran keluar. Itulah bagian yang memang bisa diperbaiki oleh operasi ini.
Diskusi yang jujur dan terbuka sebelum operasi sangat penting untuk menyamakan ekspektasi, sekaligus membuka jalan bagi dukungan medis jangka panjang jika nantinya diperlukan.
Kesimpulan singkatnya
Pria yang mengalami retensi dan harus memakai kateter menetap sering kali menjadi kandidat yang kuat untuk menjalani HoLEP. Operasi ini berfokus pada perbaikan saluran keluar urin, bagian yang selama ini "dilewati" oleh kateter.
Proses pemulihan memang butuh waktu, tetapi banyak pria yang akhirnya menyelesaikan operasi dan bisa kembali kencing tanpa bantuan kateter untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan.