HOLEP · Pemulihan

Mengalami Inkontinensia Sementara Setelah Operasi HoLEP? Ini Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh Dr Badrulhisham Bahadzor · Diperbarui 25 April 2026 · Waktu baca 5 mnt

Dua jenis kebocoran urin

Kebocoran tipe stres (tekanan) biasanya terjadi saat Anda batuk, tertawa, bersin, atau mengangkat barang berat. Ini adalah jenis kebocoran yang paling umum dialami pasien setelah menjalani prosedur enukleasi prostat dengan laser holmium (HoLEP).

Sementara itu, kebocoran tipe desakan (urge) terjadi ketika kandung kemih tiba-tiba memberikan sinyal darurat untuk buang air kecil, dan urin sudah keluar sebelum Anda sempat mencapai toilet. Kondisi ini lebih jarang terjadi pasca-HoLEP.

Ada juga kemungkinan seseorang mengalami kombinasi dari kedua jenis kebocoran tersebut. Tim medis Anda dapat membantu memastikan jenis mana yang sedang Anda alami.

Mengapa kebocoran bisa terjadi

Prosedur HoLEP pada dasarnya membuka saluran keluar dan mengangkat jaringan yang sebelumnya ikut menahan aliran urin. Akibatnya, sfingter eksternal—otot yang biasa Anda kendalikan secara sadar untuk menahan kencing—membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan kondisi baru ini.

Selain itu, kandung kemih mungkin masih memiliki kebiasaan kontraksi kuat yang terbentuk saat tubuh berusaha melawan pembesaran prostat jinak (BPH). Kontraksi ini terkadang muncul di saat yang tidak tepat pada masa awal pemulihan.

Kabar baiknya, bagi sebagian besar pria, kedua kondisi ini akan mereda seiring berjalannya waktu.

Seberapa umum kondisi ini terjadi

Hanya sebagian kecil pria yang mengalami kebocoran sementara pada minggu-minggu pertama. Data dari berbagai kasus operasi BPH di dunia nyata menunjukkan bahwa angka kejadian inkontinensia pasca-operasi hanya berada di kisaran satu digit (di bawah 10 persen) pada bulan pertama, dan persentasenya terus menurun pada bulan-bulan berikutnya.

Sebuah studi terbaru menemukan bahwa volume sisa urin setelah berkemih (post-void residual) dan kapasitas kandung kemih sebelum operasi dapat menjadi prediktor seberapa cepat pemulihan kemampuan menahan kencing setelah HoLEP[¹]. Pria yang memiliki sisa urin lebih banyak dan kapasitas kandung kemih lebih kecil sebelum operasi mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk bisa sepenuhnya bebas dari kebocoran.

Artinya, kondisi awal Anda sangat memengaruhi seberapa cepat proses pemulihan Anda sendiri.

Latihan otot dasar panggul

Latihan otot dasar panggul sangat membantu memperkuat otot yang berfungsi menahan urin. Sebagai permulaan, Anda bisa melakukan tiga sesi singkat setiap hari, dengan masing-masing sesi terdiri dari sekitar sepuluh kali kontraksi (jepitan) ringan.

Jika terasa nyaman, latihan ini bisa langsung dimulai pada hari pertama setelah kateter dilepas. Selama dua minggu pertama, cobalah untuk perlahan meningkatkan durasi tahanan hingga lima detik untuk setiap kontraksi.

Seorang fisioterapis dapat mengajarkan cara melakukan kontraksi yang benar. Hal ini penting karena pada awalnya, banyak pria tanpa sadar justru menekan otot yang salah.

Penggunaan pembalut dan pelindung

Menggunakan pembalut tipis khusus pria pada minggu pertama adalah hal yang sangat lumrah. Selain harganya terjangkau, langkah ini bisa memberikan rasa aman dan percaya diri saat beraktivitas.

Kondisi setiap pria tentu berbeda-beda. Ada yang sama sekali tidak membutuhkan pembalut, ada yang butuh pembalut kecil selama dua hingga empat minggu, dan sebagian kecil lainnya mungkin membutuhkannya lebih lama.

Pilihlah produk yang tidak mencolok saat dipakai di balik pakaian dan selalu bawa cadangan saat bepergian. Anda tidak perlu khawatir saat menggantinya, karena toilet umum biasanya menyediakan tempat sampah di bilik yang mudah diakses.

Taktik mengatur cairan dan kafein

Pastikan Anda minum cukup air agar warna urin tetap kuning pucat, namun hindari minum dalam jumlah banyak sekaligus yang bisa membebani kandung kemih. Minum sedikit demi sedikit tapi sering sepanjang hari jauh lebih baik daripada minum dalam porsi besar tiga kali sehari.

Batasi juga asupan kafein di masa awal pemulihan. Kopi dan teh dapat memicu rasa ingin buang air kecil yang mendesak, sehingga risiko terjadinya kebocoran menjadi lebih tinggi.

Alkohol juga memiliki efek serupa, ditambah lagi efek penenang yang bisa menurunkan kesadaran tubuh. Oleh karena itu, sangat disarankan untuk berhati-hati dan membatasi konsumsinya pada minggu pertama.

Kapan harus mencari bantuan medis

Anda perlu waspada jika kebocoran justru memburuk dan tidak membaik selama bulan pertama. Begitu pula jika volume kebocoran cukup banyak hingga menembus pakaian, atau jika disertai dengan gejala lain seperti demam maupun rasa nyeri.

Jika Anda mengalami salah satu dari kondisi tersebut, segera konsultasikan dengan tim medis Anda untuk mendapatkan evaluasi lebih lanjut. Rangkaian tes singkat dan terarah—seperti analisis urin, tes pancaran urin (uroflow), atau pemindaian—sering kali dapat menemukan penyebab pastinya.

Rujukan ke fisioterapis biasanya menjadi langkah penanganan selanjutnya, dan metode ini terbukti efektif bagi banyak pria.

Opsi spesialis jika kebocoran berlanjut

Jika kebocoran masih berlanjut setelah lebih dari satu tahun, evaluasi urologi yang berfokus pada fungsi menahan kencing dapat dipertimbangkan. Beberapa opsi pengobatan yang tersedia meliputi suntikan pada uretra, pemasangan sling khusus pria, atau sfingter urin buatan untuk kasus-kasus yang jarang terjadi.

Namun, tindakan-tindakan ini sangat jarang diperlukan setelah prosedur HoLEP. Sebagian besar pria sudah bisa kembali menahan kencing sepenuhnya hanya dengan perawatan konservatif jauh sebelum mencapai tahap ini.

Berdiskusi dengan urolog Anda akan membuka jalan menuju opsi-opsi tersebut jika memang diperlukan.

Kesimpulan singkat

Kebocoran sementara hanya dialami oleh sebagian kecil pria setelah menjalani HoLEP. Kondisi ini hampir selalu berupa kebocoran tipe stres yang dipicu oleh batuk, mengangkat barang berat, atau tertawa.

Melakukan latihan otot dasar panggul, menggunakan pembalut, dan memberikan waktu bagi tubuh untuk pulih biasanya sudah cukup untuk mengatasi masalah ini. Namun, jika kondisi tidak kunjung membaik pada saat evaluasi minggu keenam, jangan ragu untuk meminta dukungan lebih lanjut dari tim medis Anda.

Referensi

  1. Post Void Residual and Bladder Capacity Predict Urinary Continence Following Holmium Laser Enucleation of the Prostate for Benign Prostatic Hyperplasia. Urology, Jan 2026.

    PubMed