HOLEP · Perbandingan dengan alternatif lain

HoLEP vs TURP: Mana Operasi Terbaik untuk Atasi Pembesaran Prostat Jinak?

Ditinjau oleh Dr Badrulhisham Bahadzor · Diperbarui 25 April 2026 · Waktu baca 6 mnt

Dua operasi, satu tujuan

Baik TURP maupun enukleasi prostat dengan laser holmium (HoLEP) dilakukan melalui uretra. Keduanya bertujuan mengangkat jaringan kelenjar prostat yang menyumbat. Tujuan akhirnya sama: memperlebar saluran agar aliran urine menjadi lebih lancar.

Perbedaannya terletak pada cara kerjanya. TURP mengikis jaringan menjadi potongan-potongan kecil menggunakan kawat bedah. Sementara itu, HoLEP menggunakan sinar laser untuk mengupas seluruh lobus prostat dari kapsulnya.

Pilihan antara keduanya sangat bergantung pada kondisi prostat Anda, situasi kesehatan secara umum, dan pertimbangan dari dokter bedah.

Meredakan gejala

Kedua operasi ini terbukti mampu memperbaiki skor IPSS dan memperlancar pancaran urine. Banyak pria yang langsung merasakan perubahannya dalam beberapa minggu pertama.

Dalam jangka panjang, kedua teknik ini sama-sama awet dalam meredakan gejala. Namun, jumlah jaringan yang diangkat biasanya lebih banyak pada prosedur HoLEP. Hal ini bisa menjadi faktor penting, terutama bagi pasien dengan ukuran prostat yang sangat besar.

Risiko perdarahan dan transfusi

Sinar laser holmium memiliki kemampuan untuk langsung menutup pembuluh darah kecil saat memotong jaringan. Efek penutupan inilah yang membuat risiko perdarahan selama prosedur HoLEP tetap rendah.

Di sisi lain, TURP menggunakan arus listrik untuk memotong. Risiko perdarahan pada TURP cenderung lebih tinggi dibandingkan HoLEP, terutama pada kasus prostat yang lebih besar atau pada pria yang rutin mengonsumsi obat pengencer darah.

Kebutuhan akan transfusi darah sebenarnya jarang terjadi pada kedua operasi ini. Namun, berdasarkan perbandingan dari berbagai studi yang dipublikasikan, angka kejadiannya lebih rendah lagi pada pasien HoLEP[¹].

Waktu penggunaan kateter dan rawat inap

Waktu penggunaan kateter setelah HoLEP biasanya hanya sekitar satu hari, atau kadang dua hari. Masa rawat inapnya pun bisa sangat singkat; pada beberapa kasus tertentu, pasien bahkan bisa langsung pulang di hari yang sama.

Sementara itu, penggunaan kateter pada TURP umumnya memakan waktu dua hingga tiga hari, dengan masa rawat inap yang sering kali sedikit lebih lama.

Perbedaan ini tentu menjadi pertimbangan penting bagi pria yang ingin cepat pulang dan menjalani pemulihan di rumah.

Daya tahan hasil operasi dan operasi ulang

Sebuah meta-analisis tahun 2024 dari 13 uji klinis acak (RCT) yang membandingkan langsung HoLEP dan TURP melaporkan bahwa keduanya memberikan perbaikan gejala yang hampir sama pada tahun pertama. Namun, HoLEP menunjukkan skor IPSS yang sedikit lebih baik pada bulan kedua belas, serta sisa urine (postvoid residual) yang lebih rendah pada bulan keenam dan kedua belas[¹]. Untuk daya tahan jangka panjang, perbandingannya belum tergambar dengan sangat rinci, mengingat sebagian besar uji klinis hanya memantau pasien selama dua tahun atau kurang.

Tinjauan sistematis terpisah pada tahun 2026 menemukan bahwa tingkat penyempitan leher kandung kemih (bladder-neck contracture) lebih rendah setelah enukleasi laser dibandingkan TURP klasik. Hal ini sejalan dengan lebih rendahnya angka operasi ulang akibat penyempitan tersebut selama masa pemantauan[²]. Penyempitan leher kandung kemih merupakan salah satu alasan utama pasien harus kembali ke rumah sakit setelah TURP. Rendahnya risiko ini pada HoLEP turut berkontribusi pada keawetan hasil dari teknik tersebut.

Ejakulasi, kontinensia, dan ereksi

Ejakulasi retrograde—kondisi di mana air mani masuk ke arah kandung kemih alih-alih keluar—merupakan hal yang umum terjadi setelah kedua operasi ini. Kondisi ini tidak dianggap berbahaya secara fisik, dan sensasi saat orgasme biasanya tidak berubah.

Kebocoran urine sementara saat batuk atau bersin (inkontinensia stres) bisa dialami oleh sebagian kecil pasien, terlepas dari teknik apa yang digunakan. Keluhan ini umumnya akan mereda dalam beberapa minggu, dan senam otot dasar panggul dapat mempercepat proses pemulihan.

Fungsi ereksi biasanya tidak mengalami perubahan setelah operasi. Masalah ereksi yang baru muncul pasca-operasi memang bisa terjadi, tetapi kasusnya terbilang jarang.

Pentingnya pengalaman dokter bedah

TURP telah diajarkan selama puluhan tahun dan tersedia di banyak pusat layanan urologi di seluruh dunia. Di sisi lain, HoLEP memiliki kurva pembelajaran yang lebih menantang dan umumnya lebih terpusat di rumah sakit dengan volume kasus yang tinggi.

Jam terbang dokter bedah sangat menentukan keberhasilan kedua teknik ini. Angka keberhasilan dan tingkat komplikasi yang sering dipublikasikan biasanya berasal dari pusat layanan dengan volume kasus yang tinggi. Hasil di tempat lain bisa saja bervariasi, tergantung pada tingkat pengalaman operatornya.

Kapan TURP menjadi pilihan yang tepat

TURP tetap menjadi pilihan yang masuk akal untuk ukuran prostat sedang, terutama di fasilitas kesehatan yang belum menyediakan layanan HoLEP. Ini adalah prosedur yang sudah sangat dipahami dengan basis bukti medis yang kuat.

Selain itu, pria dengan kondisi anatomi atau penyakit penyerta (komorbid) yang tidak memungkinkan untuk menerima anestesi berdurasi lama saat enukleasi laser, mungkin masih bisa menjadi kandidat untuk prosedur TURP yang lebih singkat.

Kapan HoLEP lebih diunggulkan

HoLEP sering kali memberikan hasil yang lebih baik pada kasus prostat yang sangat besar, pria yang rutin mengonsumsi obat pengencer darah, pasien yang mengalami retensi urin dan harus memakai kateter, serta mereka yang memprioritaskan masa rawat inap singkat dengan risiko perdarahan minim. Keunggulan lain dari teknik ini adalah kemampuannya untuk menangani berbagai ukuran prostat, dari yang kecil hingga sangat besar, tanpa perlu mengubah pendekatan operasinya secara drastis.

Kesimpulan singkat

Baik TURP maupun HoLEP sama-sama mampu memberikan perbaikan gejala yang awet. Namun, HoLEP cenderung menawarkan risiko perdarahan yang lebih rendah, waktu penggunaan kateter yang lebih singkat, masa rawat inap yang lebih cepat, serta risiko penyempitan saluran yang lebih kecil seiring berjalannya waktu.

Pada akhirnya, teknik pengobatan mana yang paling tepat untuk Anda akan sangat bergantung pada kondisi prostat, situasi kesehatan Anda secara keseluruhan, serta keahlian dari dokter bedah yang menangani.

Referensi

  1. Holmium laser enucleation of the prostate versus transurethral resection of the prostate in treatment of benign prostatic hyperplasia: a meta-analysis of 13 randomized control trials. Current Urology, Sep 2024.

    PubMed

  2. Bladder neck contracture post-treatment for benign prostatic hyperplasia: a systematic review and meta-analysis of randomized clinical studies. International Urology and Nephrology, Feb 2026.

    PubMed