BPH
Sering Susah Buang Air Kecil? Ini Tahapan Pemeriksaan BPH di Dokter
Gambaran Kunjungan Pertama Anda
Kunjungan pertama untuk keluhan pembesaran prostat jinak (BPH) biasanya lebih banyak diisi dengan diskusi santai ketimbang tindakan medis. Dokter akan menanyakan gejala yang Anda alami sekaligus kondisi kesehatan secara umum.
Ada baiknya Anda membawa daftar obat-obatan yang sedang dikonsumsi, termasuk obat bebas. Beberapa jenis obat ternyata bisa memengaruhi fungsi kandung kemih atau kelenjar prostat. Jika Anda punya catatan harian buang air kecil selama dua minggu terakhir, jangan lupa untuk membawanya.
Apa Saja yang Akan Ditanyakan Dokter?
Dokter biasanya akan bertanya seputar kelancaran aliran urine, seberapa sering Anda merasa kebelet, dan berapa kali Anda harus terbangun di malam hari untuk buang air kecil. Anda juga akan ditanya sejauh mana keluhan tersebut mengganggu aktivitas sehari-hari. Selain itu, dokter mungkin akan menanyakan soal fungsi seksual, mengingat penanganan BPH bisa berdampak pada area tersebut.
Riwayat kesehatan lain juga tak kalah penting. Infeksi di masa lalu, riwayat operasi, hingga riwayat kesehatan keluarga akan sangat membantu dokter dalam menyusun rencana penanganan. Pertanyaan seputar diabetes, tekanan darah tinggi, dan pola tidur juga sering ditanyakan karena saling berkaitan.
Jawaban Anda nantinya akan menentukan jenis pemeriksaan lanjutan apa yang benar-benar diperlukan. Perlu diingat, tidak semua pasien membutuhkan tes yang sama.
Memahami Skor IPSS
Dalam evaluasi ini, dokter sering menggunakan kuesioner singkat yang disebut International Prostate Symptom Score atau IPSS. Kuesioner ini berisi tujuh pertanyaan seputar gejala dan satu pertanyaan tentang seberapa terganggunya Anda dengan kondisi tersebut.
Skor total di bawah delapan masuk dalam kategori ringan. Angka delapan hingga sembilan belas tergolong sedang, sedangkan skor dua puluh ke atas menandakan kondisi yang berat.
Menariknya, skor tingkat gangguan sering kali lebih bermanfaat bagi dokter daripada skor total. Dua orang pria bisa saja memiliki skor total yang sama, tetapi dampak gejala terhadap keseharian mereka bisa sangat berbeda.
Pemeriksaan Fisik Sederhana
Pemeriksaan fisiknya sendiri berlangsung cukup singkat. Dokter mungkin akan meraba area perut bagian bawah untuk mengecek apakah kandung kemih Anda penuh.
Pemeriksaan colok dubur (digital rectal exam) juga bisa menjadi bagian dari evaluasi ini. Tujuannya adalah untuk mendapatkan gambaran kasar mengenai ukuran dan bentuk prostat, serta mendeteksi jika ada area yang terasa tidak normal.
Langkah ini tidak memakan waktu lama. Rasa tidak nyaman yang muncul biasanya hanya sebentar, dan pengalaman setiap orang bisa berbeda-beda. Anda juga selalu bisa meminta didampingi oleh perawat atau anggota keluarga selama pemeriksaan berlangsung.
Tes Urine dan Darah
Tes urine atau urinalisis adalah langkah standar pertama yang biasa dilakukan. Tes ini bertujuan untuk mencari tanda-tanda infeksi atau keberadaan darah dalam urine. Panduan medis merekomendasikan urinalisis pada evaluasi awal bersamaan dengan penilaian skor gejala[¹].
Selain itu, dokter mungkin akan menawarkan tes darah PSA. Kadar PSA bisa meningkat pada kondisi BPH maupun kanker, sehingga hasilnya akan dibaca dengan mempertimbangkan riwayat kesehatan Anda secara keseluruhan.
Tes gula darah puasa dan fungsi ginjal terkadang juga ditambahkan. Dokter akan menjelaskan mengapa pemeriksaan tersebut penting untuk kondisi Anda.
Pemeriksaan Tambahan Jika Diperlukan
Tes uroflowmetri digunakan untuk mengukur seberapa cepat aliran urine Anda. Pemeriksaannya sederhana dan hanya memakan waktu beberapa menit, di mana Anda cukup buang air kecil ke dalam corong khusus.
Pemeriksaan USG juga bisa dilakukan untuk mengukur ukuran prostat. USG ini sekaligus mengecek seberapa banyak urine yang tersisa di dalam kandung kemih setelah Anda selesai buang air kecil. Namun, kedua tes ini bukanlah pemeriksaan rutin untuk semua orang.
Tindakan sistoskopi—memasukkan kamera kecil ke dalam uretra—hanya dilakukan untuk menjawab kondisi yang sangat spesifik. Dokter baru akan menyarankannya jika hasil dari tes tersebut memang akan mengubah rencana pengobatan Anda.
Langkah Selanjutnya
Setelah kunjungan pertama selesai, dokter akan menjelaskan apa arti dari pola gejala yang Anda alami. Anda mungkin akan diberikan saran terkait perubahan gaya hidup, resep obat, atau sekadar pendekatan observasi (watch-and-wait).
Jika memang diperlukan rujukan, biasanya Anda akan diarahkan ke seorang urolog. Banyak pria yang sebenarnya tidak membutuhkan operasi—pilihan ini baru dipertimbangkan ketika langkah-langkah yang lebih ringan belum memberikan hasil yang memuaskan.
Pastikan untuk selalu membawa hasil IPSS dan catatan harian Anda di setiap kunjungan berikutnya. Perubahan angka dari waktu ke waktu sering kali memberikan informasi yang jauh lebih berharga dibandingkan hasil dari satu kali kunjungan saja.